KMB

Minggu, 19 Juli 2026

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

MEDAN – Kemegahan Panggung Keong dalam perhelatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 menjadi saksi bisu keberhasilan luar biasa dari Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara (Sumut) Sanggar Seni Siswo Langgeng Budoyo sukses menghipnotis ribuan pasang mata melalui pertunjukan seni yang megah dan penuh estetika pada Minggu malam (18/7/2026).

Sejak Monitor diputar, Sanggar Siswo Langgeng Budoyo langsung menyuguhkan komposisi seni tingkat tinggi yang memadukan keanggunan gerak tari tradisional dengan alunan musik etnik yang enerjik dan dinamis. Tata cahaya yang megah di Panggung Keong berpadu dengan kostum penari yang detail dan artistik, menciptakan harmoni visual yang mengundang decak kagum. Ribuan penonton yang memadati lokasi tampak terpaku, memberikan apresiasi berupa tepuk tangan gemuruh yang tidak henti-hentinya mengiringi setiap pergantian adegan.

Pendiri sekaligus Ketua Sanggar Siswo Langgeng Budoyo, Agus Widodo, bersama partner setianya, Iwan serta seluruh rekan-rekan seniman, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas sambutan luar biasa dari masyarakat. Penampilan di PRSU ke-50 ini menjadi bukti nyata konsistensi sanggar dalam merawat marwah seni tradisi di tengah arus modernisasi.

"Kami sangat bangga bisa memberikan penampilan terbaik bagi masyarakat di momen spesial PRSU ke-50 ini. Bagi kami, setiap panggung adalah kesempatan untuk menyampaikan pesan bahwa seni budaya kita memiliki nilai luhur yang harus terus dijaga," ujar Agus Widodo.

Senada dengan Agus, Iwan menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dedikasi dan sinergi yang solid antar sesama seniman di dalam sanggar. "Kekompakan, disiplin, dan kecintaan kami pada budaya menjadi bahan bakar utama. Kami ingin memastikan setiap karya yang kami bawa memberikan dampak emosional bagi para penonton," jelas Iwan.

Rekam Jejak yang Mengesankan

Agus dan Iwan menjelaskan bahwa kualitas pertunjukan yang mereka suguhkan bukanlah hasil instan. Keikutsertaan mereka dalam acara-acara besar seperti PRSU merupakan rangkaian dari agenda padat sanggar yang terus bergerak aktif.

"Bukan kali ini saja sanggar memberikan penampilan yang baik. Sebelumnya, kami juga sukses membawakan Drama Kolosal pada Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau beberapa hari lalu. Dalam drama tersebut, kami menghadirkan narasi megah mengenai perjuangan dan kejayaan sejarah tembakau yang menjadi fondasi ekonomi Sumatera Utara di masa lampau. Keberhasilan menyampaikan pesan sejarah melalui seni tari itulah yang kami bawa kembali ke panggung PRSU malam ini," ungkap Agus dengan bangga.

Harapan bagi Pelestarian Budaya

Pencapaian gemilang Sanggar Siswo Langgeng Budoyo ini menjadi bukti konkret bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Melalui bimbingan Agus Widodo, Iwan, dan para pengurus lainnya, sanggar ini terus berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus melestarikan identitas budaya Sumatera Utara.

Keberhasilan penampilan di Panggung Keong PRSU ke-50 ini diharapkan mampu menjadi pemacu semangat bagi komunitas seni lainnya untuk terus berkarya, sekaligus memperkuat posisi Paguyuban Krida Manunggal Budaya sebagai pilar utama dalam menjaga eksistensi budaya di Sumatera Utara.


SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

senimantul.blogspot.com

Share:

Sabtu, 11 Juli 2026

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Padangsidimpuan, 11 Juli 2026 – Sebuah tonggak sejarah baru dalam khazanah seni pertunjukan di wilayah Tapanuli Raya resmi mencuat ke permukaan. Proses kreatif yang mendalam kini tengah dilakukan untuk melahirkan karya tari orisinal bertajuk "Tari Gunungan". Karya ini digadang-gadang tidak hanya menjadi suguhan estetis, tetapi juga simbol identitas baru yang sangat relevan dengan lanskap geografis serta sosiologis masyarakat di Padangsidimpuan dan sekitarnya.

Menyelami Filosofi di Balik Geografis Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, yang dikenal sebagai "Kota Salak", secara geografis memiliki keunikan yang memikat. Dikelilingi oleh barisan pegunungan yang megah, kota ini berada di lembah yang subur, menciptakan kontur alam yang dramatis dan menantang. Ikon utama daerah ini, yaitu buah salak, bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan representasi ketangguhan masyarakat yang mampu hidup dan berkembang di antara perbukitan yang terjal.

Tari Gunungan hadir sebagai interpretasi artistik dari fenomena alam tersebut. Gerakan-gerakan dalam tarian ini dirancang untuk mencerminkan dinamika pegunungan, di mana setiap liukan tubuh penari menyerupai siluet perbukitan. Formasi gerak yang memuncak secara visual mengadopsi bentuk kerucut buah salak—simbol kemakmuran dan karakter masyarakat setempat yang "berkulit duri namun manis di dalam".

Memadukan Makna Luhur Gunungan Wayang

Tak hanya terinspirasi dari bentuk fisik salak dan pegunungan, Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa karya ini juga meresap esensi filosofis dari Gunungan dalam tradisi Wayang Kulit. Dalam pewayangan, Gunungan atau Kayon adalah simbol kehidupan, alam semesta, dan pintu pembuka serta penutup cerita. Ia melambangkan keseimbangan antara bumi dan langit, serta perjalanan jiwa manusia.

Dengan mengadopsi makna tersebut, Tari Gunungan menjadi sebuah refleksi spiritual bahwa setiap kehidupan masyarakat di lereng pegunungan Padangsidimpuan senantiasa bersandar pada keseimbangan alam. Gerakan tari ini menjadi doa, sebuah simbol "pembuka jalan" bagi kemajuan budaya di Tapanuli Raya yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

Kolaborasi Kontemporer: Gondang Sembilan dan Gamelan

Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku pendiri Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan bahwa proses riset untuk tarian ini telah memasuki tahap demi tahap konsep musik pengiring. Menurutnya, sebuah kolaborasi lintas budaya akan menjadi inti dari pertunjukan ini di suatu hari nanti.

"In sya Allah, Suatu hari nanti Tari Gunungan ini akan menjadi titik temu antara tradisi lokal dan kreativitas kontemporer. Kita akan memadukan kemegahan irama Gondang Sembilan, yang merupakan identitas budaya Mandailing yang sangat kuat, dengan motif gerak Gunungan yang filosofis," ujar Wahyu saat ditemui di sela-sela latihan.

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa nuansa kontemporer akan semakin kental dengan integrasi instrumen Gamelan Saron Berjenis Slendro. Irama yang dipilih adalah pola notasi 165, yang sengaja diselaraskan dengan ritme Jathilan Khas Kesenian Jawa. Perpaduan irama yang energetik dari Gamelan Saron Slendro dengan ketukan perkusi Gondang Sembilan diyakini akan menciptakan atmosfer pertunjukan yang magis, dinamis, dan mampu menghipnotis penonton di suatu hari nanti.

Visi Menuju Panggung Budaya Nasional

Tari Gunungan bukan sekadar proyek seni sesaat. Wahyu bersama Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan memandang karya ini nantinya sebagai langkah strategis untuk memperkaya literasi budaya di Tapanuli Raya. Melalui kolaborasi demikian, diharapkan terjadi dialog antarbudaya yang harmonis, membuktikan bahwa perbedaan etnis dan tradisi dapat melebur menjadi satu kesatuan karya yang inklusif.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Padangsidimpuan memiliki kapasitas untuk melahirkan inovasi seni yang berkelas. Dengan memadukan unsur alam pegunungan kita, kekayaan buah salak kita, makna filosofis Gunungan wayang, dan kearifan musik tradisi, kami optimistis tarian ini akan menjadi primadona baru dalam festival budaya, baik di level regional maupun nasional," tambah Wahyu.

Saat ini, para seniman muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan tengah mengintensifkan latihan guna memastikan keselarasan antara gerak tubuh penari dan tempo musik. Masyarakat Padangsidimpuan pun menantikan peluncuran perdana karya ini, yang diharapkan dapat menjadi kebanggaan baru bagi warga di lereng pegunungan Tapanuli Raya.

Dengan hadirnya Tari Gunungan, Padangsidimpuan kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga terus bertumbuh melalui napas seni yang progresif.


Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Tarian Perdana se-Tapanuli Raya

kridamanunggalbudayapsp.blogspot.com

tribunpadangsdimpuan.blogspot.com

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

kompasbudaya.blogspot.com

Share:

Sabtu, 04 Juli 2026

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

PADANGSIDIMPUAN – Semangat kreativitas anak-anak tingkat Pendidikan Dasar di Kota Padangsidimpuan tampak terpancar dalam gelaran lomba mewarnai perdana yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Tri Laras. Kegiatan yang berlangsung secara gratis ini diadakan di Kelurahan Sitamiang Baru, Lingkungan III, Gang Nasional, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Sabtu 04/07/2026

Sebanyak lebih dari 30 peserta antusias mengikuti perlombaan ini. Menariknya, peserta yang hadir berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari anak-anak yatim dan piatu hingga peserta didik dari berbagai sekolah unggulan di Padangsidimpuan, seperti SDIT Nurul Ilmi, SDN 01 Padangsidimpuan, SDN 15 Padangsidimpuan, dan sekolah lainnya.


Kegiatan yang diinisiasi oleh pendiri sekaligus pimpinan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, ini bertujuan untuk mengasah bakat seni dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta sejak dini. Meski dikemas dengan konsep yang sederhana, kegiatan perlombaan ini berlangsung sangat meriah dan penuh kesan bagi masyarakat setempat. Dan tak lupa Wahyu Diyono mengucapkan terimakasih kepada peserta lomba dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan yang sangat baik ini dan menyampaikan visi misi Sanggar di antaranya 

Visi

Menjadi pusat pelestarian dan pengembangan seni budaya yang inklusif, inovatif, dan religius, serta menjadi wadah unggulan bagi generasi baru Padangsidimpuan dalam mengaktualisasikan diri di kancah seni lokal hingga nasional.

Misi

1. Pengembangan Kompetensi Seni: Menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan seni yang terstruktur untuk meningkatkan skill dan kemampuan teknis peserta keanggotaan, guna mencetak insan seni yang profesional dan kompetitif.

2. Partisipasi Aktif & Berjejaring: Menjadi garda terdepan dalam setiap perhelatan seni budaya, mulai dari tingkat masyarakat, kelurahan, komunitas, hingga partisipasi aktif dalam ajang di tingkat pemerintahan daerah maupun nasional.

3. Integrasi Spiritualitas & Budaya: Menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan moral dan etika dalam setiap aktivitas seni, sehingga kesenian yang dihasilkan menjadi bentuk pengabdian yang luhur dan membawa kebermanfaatan bagi sesama.

4. Inovasi Berbasis Tradisi: Mengemas karya seni tradisional agar tetap relevan dengan perkembangan zaman melalui sentuhan kreatif tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi yang berkembang maju.

5. Ruang Inklusivitas & Karakter: Menjadikan sanggar sebagai ruang temu bagi keberagaman etnis yang menjunjung tinggi kebersamaan, disiplin, dan rasa bangga terhadap warisan budaya sebagai jati diri bangsa yang beradab.

" Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan: Berbudaya, Berkompetensi, Berakhlak Mulia". Tri Laras memiliki makna yaitu 3 keseimbangan diantara nya:

Cipta/Cipto (Kognitif): Daya pikir, akal, atau kreativitas untuk menciptakan ide dan gagasan baru. 

Rasa/Roso (Afektif): Hati nurani, emosi, dan kepekaan atau empati untuk mempertimbangkan nilai baik dan buruk.

Karsa/Karso (Psikomotorik): Kehendak, tekad, atau motivasi yang mendorong seseorang untuk bertindak dan mewujudkan ide menjadi kenyataan.

Suasana lokasi seluruh peserta tampak serius namun ceria dalam memperebutkan gelar juara 1, 2, 3, hingga juara 4 yang telah disiapkan oleh sanggar.

Tanggapan positif mengalir deras dari para orang tua peserta. Pak Sabar, salah satu orang tua yang hadir mendampingi anaknya, mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan ini.

"Kegiatan ini sangat sederhana, namun sangat berkesan bagi kami. Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Wahyu dan Sanggar Seni Tri Laras yang telah memfasilitasi anak-anak untuk berkarya secara gratis," ungkap Pak Sabar di sela-sela perlombaan.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Wahyu Diyono menyatakan komitmennya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda yang berkelanjutan. Ia berharap, di tahun-tahun mendatang, kualitas acara akan terus ditingkatkan.

"Alhamdulillah, kegiatan perdana ini berjalan lancar. In Sya Allah, untuk tahun depan akan kita tingkatkan lagi kualitas penyelenggaraannya, termasuk dengan memberikan hadiah yang lebih menarik, baik itu berupa piala maupun bentuk apresiasi lainnya untuk memotivasi anak-anak," ujar Wahyu.

Keberhasilan acara perdana ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Sanggar Seni Tri Laras untuk terus berkontribusi dalam membina generasi muda yang kreatif dan inovatif di Kota Padangsidimpuan.

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

KMB tribunseni.blogspot.com detikbudaya.blogspot.com tribunpadangsidimpuan.blogspot.com

Share: