KMB

This a free responsive blogger theme. Customize it as you wish.

Featured Post Title 1

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

read more

Featured Post Title 2

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

read more

Featured Post Title 3

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

read more

Minggu, 19 Juli 2026

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

MEDAN – Kemegahan Panggung Keong dalam perhelatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 menjadi saksi bisu keberhasilan luar biasa dari Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara (Sumut) Sanggar Seni Siswo Langgeng Budoyo sukses menghipnotis ribuan pasang mata melalui pertunjukan seni yang megah dan penuh estetika pada Minggu malam (18/7/2026).

Sejak Monitor diputar, Sanggar Siswo Langgeng Budoyo langsung menyuguhkan komposisi seni tingkat tinggi yang memadukan keanggunan gerak tari tradisional dengan alunan musik etnik yang enerjik dan dinamis. Tata cahaya yang megah di Panggung Keong berpadu dengan kostum penari yang detail dan artistik, menciptakan harmoni visual yang mengundang decak kagum. Ribuan penonton yang memadati lokasi tampak terpaku, memberikan apresiasi berupa tepuk tangan gemuruh yang tidak henti-hentinya mengiringi setiap pergantian adegan.

Pendiri sekaligus Ketua Sanggar Siswo Langgeng Budoyo, Agus Widodo, bersama partner setianya, Iwan serta seluruh rekan-rekan seniman, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas sambutan luar biasa dari masyarakat. Penampilan di PRSU ke-50 ini menjadi bukti nyata konsistensi sanggar dalam merawat marwah seni tradisi di tengah arus modernisasi.

"Kami sangat bangga bisa memberikan penampilan terbaik bagi masyarakat di momen spesial PRSU ke-50 ini. Bagi kami, setiap panggung adalah kesempatan untuk menyampaikan pesan bahwa seni budaya kita memiliki nilai luhur yang harus terus dijaga," ujar Agus Widodo.

Senada dengan Agus, Iwan menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dedikasi dan sinergi yang solid antar sesama seniman di dalam sanggar. "Kekompakan, disiplin, dan kecintaan kami pada budaya menjadi bahan bakar utama. Kami ingin memastikan setiap karya yang kami bawa memberikan dampak emosional bagi para penonton," jelas Iwan.

Rekam Jejak yang Mengesankan

Agus dan Iwan menjelaskan bahwa kualitas pertunjukan yang mereka suguhkan bukanlah hasil instan. Keikutsertaan mereka dalam acara-acara besar seperti PRSU merupakan rangkaian dari agenda padat sanggar yang terus bergerak aktif.

"Bukan kali ini saja sanggar memberikan penampilan yang baik. Sebelumnya, kami juga sukses membawakan Drama Kolosal pada Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau beberapa hari lalu. Dalam drama tersebut, kami menghadirkan narasi megah mengenai perjuangan dan kejayaan sejarah tembakau yang menjadi fondasi ekonomi Sumatera Utara di masa lampau. Keberhasilan menyampaikan pesan sejarah melalui seni tari itulah yang kami bawa kembali ke panggung PRSU malam ini," ungkap Agus dengan bangga.

Harapan bagi Pelestarian Budaya

Pencapaian gemilang Sanggar Siswo Langgeng Budoyo ini menjadi bukti konkret bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Melalui bimbingan Agus Widodo, Iwan, dan para pengurus lainnya, sanggar ini terus berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus melestarikan identitas budaya Sumatera Utara.

Keberhasilan penampilan di Panggung Keong PRSU ke-50 ini diharapkan mampu menjadi pemacu semangat bagi komunitas seni lainnya untuk terus berkarya, sekaligus memperkuat posisi Paguyuban Krida Manunggal Budaya sebagai pilar utama dalam menjaga eksistensi budaya di Sumatera Utara.


SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

senimantul.blogspot.com

Share:

Sabtu, 11 Juli 2026

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Padangsidimpuan, 11 Juli 2026 – Sebuah tonggak sejarah baru dalam khazanah seni pertunjukan di wilayah Tapanuli Raya resmi mencuat ke permukaan. Proses kreatif yang mendalam kini tengah dilakukan untuk melahirkan karya tari orisinal bertajuk "Tari Gunungan". Karya ini digadang-gadang tidak hanya menjadi suguhan estetis, tetapi juga simbol identitas baru yang sangat relevan dengan lanskap geografis serta sosiologis masyarakat di Padangsidimpuan dan sekitarnya.

Menyelami Filosofi di Balik Geografis Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, yang dikenal sebagai "Kota Salak", secara geografis memiliki keunikan yang memikat. Dikelilingi oleh barisan pegunungan yang megah, kota ini berada di lembah yang subur, menciptakan kontur alam yang dramatis dan menantang. Ikon utama daerah ini, yaitu buah salak, bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan representasi ketangguhan masyarakat yang mampu hidup dan berkembang di antara perbukitan yang terjal.

Tari Gunungan hadir sebagai interpretasi artistik dari fenomena alam tersebut. Gerakan-gerakan dalam tarian ini dirancang untuk mencerminkan dinamika pegunungan, di mana setiap liukan tubuh penari menyerupai siluet perbukitan. Formasi gerak yang memuncak secara visual mengadopsi bentuk kerucut buah salak—simbol kemakmuran dan karakter masyarakat setempat yang "berkulit duri namun manis di dalam".

Memadukan Makna Luhur Gunungan Wayang

Tak hanya terinspirasi dari bentuk fisik salak dan pegunungan, Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa karya ini juga meresap esensi filosofis dari Gunungan dalam tradisi Wayang Kulit. Dalam pewayangan, Gunungan atau Kayon adalah simbol kehidupan, alam semesta, dan pintu pembuka serta penutup cerita. Ia melambangkan keseimbangan antara bumi dan langit, serta perjalanan jiwa manusia.

Dengan mengadopsi makna tersebut, Tari Gunungan menjadi sebuah refleksi spiritual bahwa setiap kehidupan masyarakat di lereng pegunungan Padangsidimpuan senantiasa bersandar pada keseimbangan alam. Gerakan tari ini menjadi doa, sebuah simbol "pembuka jalan" bagi kemajuan budaya di Tapanuli Raya yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

Kolaborasi Kontemporer: Gondang Sembilan dan Gamelan

Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku pendiri Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan bahwa proses riset untuk tarian ini telah memasuki tahap demi tahap konsep musik pengiring. Menurutnya, sebuah kolaborasi lintas budaya akan menjadi inti dari pertunjukan ini di suatu hari nanti.

"In sya Allah, Suatu hari nanti Tari Gunungan ini akan menjadi titik temu antara tradisi lokal dan kreativitas kontemporer. Kita akan memadukan kemegahan irama Gondang Sembilan, yang merupakan identitas budaya Mandailing yang sangat kuat, dengan motif gerak Gunungan yang filosofis," ujar Wahyu saat ditemui di sela-sela latihan.

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa nuansa kontemporer akan semakin kental dengan integrasi instrumen Gamelan Saron Berjenis Slendro. Irama yang dipilih adalah pola notasi 165, yang sengaja diselaraskan dengan ritme Jathilan Khas Kesenian Jawa. Perpaduan irama yang energetik dari Gamelan Saron Slendro dengan ketukan perkusi Gondang Sembilan diyakini akan menciptakan atmosfer pertunjukan yang magis, dinamis, dan mampu menghipnotis penonton di suatu hari nanti.

Visi Menuju Panggung Budaya Nasional

Tari Gunungan bukan sekadar proyek seni sesaat. Wahyu bersama Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan memandang karya ini nantinya sebagai langkah strategis untuk memperkaya literasi budaya di Tapanuli Raya. Melalui kolaborasi demikian, diharapkan terjadi dialog antarbudaya yang harmonis, membuktikan bahwa perbedaan etnis dan tradisi dapat melebur menjadi satu kesatuan karya yang inklusif.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Padangsidimpuan memiliki kapasitas untuk melahirkan inovasi seni yang berkelas. Dengan memadukan unsur alam pegunungan kita, kekayaan buah salak kita, makna filosofis Gunungan wayang, dan kearifan musik tradisi, kami optimistis tarian ini akan menjadi primadona baru dalam festival budaya, baik di level regional maupun nasional," tambah Wahyu.

Saat ini, para seniman muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan tengah mengintensifkan latihan guna memastikan keselarasan antara gerak tubuh penari dan tempo musik. Masyarakat Padangsidimpuan pun menantikan peluncuran perdana karya ini, yang diharapkan dapat menjadi kebanggaan baru bagi warga di lereng pegunungan Tapanuli Raya.

Dengan hadirnya Tari Gunungan, Padangsidimpuan kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga terus bertumbuh melalui napas seni yang progresif.


Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Tarian Perdana se-Tapanuli Raya

kridamanunggalbudayapsp.blogspot.com

tribunpadangsdimpuan.blogspot.com

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

kompasbudaya.blogspot.com

Share:

Sabtu, 04 Juli 2026

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

PADANGSIDIMPUAN – Semangat kreativitas anak-anak tingkat Pendidikan Dasar di Kota Padangsidimpuan tampak terpancar dalam gelaran lomba mewarnai perdana yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Tri Laras. Kegiatan yang berlangsung secara gratis ini diadakan di Kelurahan Sitamiang Baru, Lingkungan III, Gang Nasional, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Sabtu 04/07/2026

Sebanyak lebih dari 30 peserta antusias mengikuti perlombaan ini. Menariknya, peserta yang hadir berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari anak-anak yatim dan piatu hingga peserta didik dari berbagai sekolah unggulan di Padangsidimpuan, seperti SDIT Nurul Ilmi, SDN 01 Padangsidimpuan, SDN 15 Padangsidimpuan, dan sekolah lainnya.


Kegiatan yang diinisiasi oleh pendiri sekaligus pimpinan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, ini bertujuan untuk mengasah bakat seni dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta sejak dini. Meski dikemas dengan konsep yang sederhana, kegiatan perlombaan ini berlangsung sangat meriah dan penuh kesan bagi masyarakat setempat. Dan tak lupa Wahyu Diyono mengucapkan terimakasih kepada peserta lomba dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan yang sangat baik ini dan menyampaikan visi misi Sanggar di antaranya 

Visi

Menjadi pusat pelestarian dan pengembangan seni budaya yang inklusif, inovatif, dan religius, serta menjadi wadah unggulan bagi generasi baru Padangsidimpuan dalam mengaktualisasikan diri di kancah seni lokal hingga nasional.

Misi

1. Pengembangan Kompetensi Seni: Menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan seni yang terstruktur untuk meningkatkan skill dan kemampuan teknis peserta keanggotaan, guna mencetak insan seni yang profesional dan kompetitif.

2. Partisipasi Aktif & Berjejaring: Menjadi garda terdepan dalam setiap perhelatan seni budaya, mulai dari tingkat masyarakat, kelurahan, komunitas, hingga partisipasi aktif dalam ajang di tingkat pemerintahan daerah maupun nasional.

3. Integrasi Spiritualitas & Budaya: Menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan moral dan etika dalam setiap aktivitas seni, sehingga kesenian yang dihasilkan menjadi bentuk pengabdian yang luhur dan membawa kebermanfaatan bagi sesama.

4. Inovasi Berbasis Tradisi: Mengemas karya seni tradisional agar tetap relevan dengan perkembangan zaman melalui sentuhan kreatif tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi yang berkembang maju.

5. Ruang Inklusivitas & Karakter: Menjadikan sanggar sebagai ruang temu bagi keberagaman etnis yang menjunjung tinggi kebersamaan, disiplin, dan rasa bangga terhadap warisan budaya sebagai jati diri bangsa yang beradab.

" Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan: Berbudaya, Berkompetensi, Berakhlak Mulia". Tri Laras memiliki makna yaitu 3 keseimbangan diantara nya:

Cipta/Cipto (Kognitif): Daya pikir, akal, atau kreativitas untuk menciptakan ide dan gagasan baru. 

Rasa/Roso (Afektif): Hati nurani, emosi, dan kepekaan atau empati untuk mempertimbangkan nilai baik dan buruk.

Karsa/Karso (Psikomotorik): Kehendak, tekad, atau motivasi yang mendorong seseorang untuk bertindak dan mewujudkan ide menjadi kenyataan.

Suasana lokasi seluruh peserta tampak serius namun ceria dalam memperebutkan gelar juara 1, 2, 3, hingga juara 4 yang telah disiapkan oleh sanggar.

Tanggapan positif mengalir deras dari para orang tua peserta. Pak Sabar, salah satu orang tua yang hadir mendampingi anaknya, mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan ini.

"Kegiatan ini sangat sederhana, namun sangat berkesan bagi kami. Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Wahyu dan Sanggar Seni Tri Laras yang telah memfasilitasi anak-anak untuk berkarya secara gratis," ungkap Pak Sabar di sela-sela perlombaan.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Wahyu Diyono menyatakan komitmennya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda yang berkelanjutan. Ia berharap, di tahun-tahun mendatang, kualitas acara akan terus ditingkatkan.

"Alhamdulillah, kegiatan perdana ini berjalan lancar. In Sya Allah, untuk tahun depan akan kita tingkatkan lagi kualitas penyelenggaraannya, termasuk dengan memberikan hadiah yang lebih menarik, baik itu berupa piala maupun bentuk apresiasi lainnya untuk memotivasi anak-anak," ujar Wahyu.

Keberhasilan acara perdana ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Sanggar Seni Tri Laras untuk terus berkontribusi dalam membina generasi muda yang kreatif dan inovatif di Kota Padangsidimpuan.

Kreativitas Tanpa Batas: Lomba Mewarnai Gratis Sanggar Seni Tri Laras Mampu Curi Perhatian Masyarakat Sitamiang Baru

KMB tribunseni.blogspot.com detikbudaya.blogspot.com tribunpadangsidimpuan.blogspot.com

Share:

Senin, 29 Juni 2026

Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul

Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul (Mantap Betul)

TAPANULI SELATAN – Di sela-sela rimbunnya Dusun Bongal, Hutaraja Tinggi, suasana Minggu (29/062026) mendadak bergetar. Suara gamelan yang bersahutan memecah kesunyian, menjadi penanda detak jantung budaya kembali berdenyut melalui atraksi Sanggar Jaran Kepang Endang Sewu dari Batang Toru dan Sanggar Tri Laras dari Padangsidimpuan. Dalam puncak perhelatan khitanan yang digelar sebagai acara partai tambahan, kedua sanggar ini hadir bukan sekadar menari, melainkan merajut kenangan dan menyambung silaturahmi yang kian erat.

Sejak siang mencapai puncaknya, tampak salah satu seorang tokoh masyarakat setempat telah menanti kedatangan sanggar ini dengan penuh semangat di pinggir lapangan. Bagi beliau, kehadiran kesenian rakyat ini adalah penawar dahaga akan tradisi yang kian hari kian jarang menyapa. Kehadiran beliau seolah menjadi restu bagi para penari yang bersiap di balik kostum menarik yang sarat dengan aura magis dan kesejarahan.

Di tengah memuncaknya suasana pertunjukan, sebuah momen tak terduga terjadi. Tiba-tiba, seorang ibu-ibu di tengah kerumunan penonton tampak hilang kendali, terbawa oleh ritme musik yang kian rancak dan suasana magis yang menyelimuti area pertunjukan. Momen tersebut seolah menegaskan betapa kuatnya pengaruh kesenian ini dalam menyentuh sisi emosional dan spiritual warga yang menyaksikannya.

Di balik riuh semangat penonton, tersembunyi keringat yang tak sedikit. Pak Paiman dari Sanggar Endang Sewu dan Wahyu dari Sanggar Tri Laras, bersama seluruh punggawa seni, harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dengan segala kerumitan perlengkapan yang diboyong. Wajah-wajah mereka sempat menyiratkan letih yang amat sangat, namun saat selendang dikalungkan dan musik mulai ditabuh, keletihan itu pun luruh. Bagi mereka, profesi ini adalah panggilan jiwa.

Pertunjukan ini bak magnet yang menyatukan warga. Di sela-sela kerumunan, para pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) tampak sumringah. Salah satu pedagang yang sedari tadi menjajakan dagangannya, dengan gestur antusias menghampiri tim dari Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan.

"Kapan lagi kesenian ini akan menghentak, Mas?" tanyanya penuh harap.

Mendengar pertanyaan itu, tim KMB pun tersenyum tipis, "Insyaallah minggu depan, Mas."

Jawaban itu bukan hanya tentang jadwal, melainkan harapan bagi pedagang tersebut akan kembali bergeraknya roda ekonomi kecil mereka. Kesenian rakyat ini telah terbukti menjadi penggerak ekonomi yang nyata—sebuah bukti bahwa ketika budaya dihidupkan, maka rezeki pun turut berdatangan.

Di penghujung pertunjukan, Pak Paiman dan Wahyu berkesempatan menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada sang tuan rumah. Mereka menghaturkan terima kasih yang tulus karena telah berbesar hati menyuguhkan kesenian yang merakyat ini. Langkah tuan rumah dalam menggelar puncak khitanan dengan menghadirkan Jaran Kepang adalah sebuah upaya mulia dalam menjaga api tradisi tetap menyala di tengah gempuran zaman.

Dusun Bongal, Hutaraja Tinggi hari ini telah menjadi saksi, bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan penyambung rasa, penghidup ekonomi, dan pemersatu warga. Selama gamelan masih ditabuh, selama itu pula budaya kita tak akan pernah mati.


Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul 

KMB Sumut Psp KridaManunggalBudayaPsp.blogspot.com

Senimantul.blogspot.com Tribun Padangsidimpuan

Share:

Minggu, 28 Juni 2026

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Endang Sewu Tapsel dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan Pukau Masyarakat

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Endang Sewu Tapsel dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan Pukau Masyarakat

Aek Pining Tapsel – Suasana hajatan pernikahan di kawasan Aek Pining Kampung Pasir, Tapanuli Selatan, mendadak berubah menjadi pertunjukan kebudayaan yang sangat menarik pada Minggu (28/6/2026). Penampilan yang seharusnya menjadi acara syukuran pernikahan  sebagainya biasanya, bertransformasi menjadi pusat perhatian masyarakat berkat penampilan kolaborasi mantap betul antara Sanggar Seni Jaran Kepang legendaris Endang Sewu dari Tapanuli Selatan (Tapsel) dengan Sanggar Tri Laras dari Padangsidimpuan.

Kesenian Jaran Kepang bukanlah hal asing bagi masyarakat Aek Pining. Bagi masyarakat setempat, kesenian ini lebih dari sekadar tontonan; ia adalah identitas yang telah dicintai dari generasi ke generasi. Sang tuan rumah hajatan, yang sejak lama dikenal sebagai penggemar aktif kesenian fenomenal ini, secara khusus mendatangkan kedua kelompok tersebut untuk memeriahkan momen bahagia keluarganya.

"Kami ingin menghadirkan sesuatu yang menyentuh akar budaya. Melihat Endang Sewu berpadu dengan Tri Laras adalah sebuah kerinduan yang akhirnya terbayar lunas hari ini," ujar salah satu kerabat keluarga penyelenggara hajatan.


Puncak ketegangan terjadi saat irama gamelan mulai bertalu dengan tempo cepat, memicu suasana menjadi magis. Para pemain senior yang larut dalam energi pertunjukan mendadak mengalami trance (hilang kendali). Dalam kondisi yang tak terduga, beberapa pemain melesat keluar dari arena dan berlarian menuju tengah jalan raya, memicu riuh penonton yang terpaku sekaligus waspada.

Momen dramatis ini tidak berlangsung lama. Dengan cekatan dan penuh ketenangan, sang pawang segera mendekati pemain yang sedang dalam kondisi bawah sadar. Bisikan lembut di telinga sang pemain seolah menjadi mantra yang mengembalikan kesadaran mereka secara perlahan. Tak berselang lama, para pemain kembali ke arena utama, melanjutkan atraksi dengan harmoni yang lebih memukau, membuat penonton berdecak kagum akan misteri dan keprofesionalan mereka.

Di balik riuhnya alunan musik dan aksi panggung, kesenian ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar. Tim Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan yang memantau langsung di lokasi, mencatat geliat positif di sektor ekonomi kreatif. Sepanjang jalan menuju lokasi acara, deretan beberapa tenda pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) tampak diramaikan pembeli.

Saat tim KMB menyambangi salah satu lapak UKM di pinggir arena pertunjukan, Tim KMB bertanya tentang kondisi penjualan hari itu. Gimana mas jualan nya ke salah satu pedagang? "Lancar, Alhamdulillah. Acara seperti ini adalah berkah bagi kami para pelaku usaha kreatif masyarakat. Dagangan jauh lebih cepat habis dibandingkan hari biasanya," jawab sang pedagang dengan senyum lebar penuh rasa syukur.

Keberhasilan kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional seperti Jaran Kepang masih memiliki posisi istimewa di hati masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun juga menjadi wadah pemersatu warga dan penggerak ekonomi mikro.

Kehadiran Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan di lokasi juga menegaskan komitmen untuk terus mengawal dan mendokumentasikan setiap aksi pelestarian budaya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Endang Sewu Tapanuli Selatan dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan maupun sanggar yang lainnya, agar nilai-nilai luhur ini tidak hilang ditelan zaman dan pemangku kebijakan seperti pemerintahan, ataupun pihak terkait bisa melihat langsung kondisi yang dialami sanggar-sanggar seni Indonesia ini.

Kolaborasi Seni Jaran Kepang Endang Sewu Tapsel dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan Pukau Masyarakat

Krida Manunggal Budaya Psp

KMB SUMUT Tribun Padangsidimpuan.Blogspot.com



Share:

Jumat, 26 Juni 2026

Satu Rasa Seni di Purwodadi Padangsidimpuan: Syukuran Khitanan, Kebhinekaan, dan Harapan Baru bagi Para Pelaku UMKM

 

Satu Rasa Seni di Purwodadi Padangsidimpuan: Syukuran Khitanan, Kebhinekaan, dan Harapan Baru bagi Para Pelaku UMKM

​PURWODADI PADANGSIDIMPUAN– Suasana lokasi di Purwodadi Padangsidimpuan mendadak meriah dan penuh energi pada Jumat sore, 26 Juni 2026. Penampilan memukau dari kelompok seni Jaran Kepang Langen Budi Utomo (LBU) yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan berhasil menggetarkan suasana, menarik antusiasme berbagai elemen masyarakat yang mendatangi lokasi tersebut.

​Pertunjukan seni fenomenal ini diselenggarakan dalam rangka syukuran khitanan cucu dari salah satu seniman senior di Padangsidimpuan. Momentum ini terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 26 Juni 2026, menjadikannya ruang positif bagi masyarakat untuk berkumpul dalam semangat kebhinekaan yang bersih dan produktif.

​Selain sebagai ajang silaturahmi, pertunjukan ini menjadi simbol perlawanan terhadap penyalahgunaan narkotika. Melalui pelestarian budaya, para seniman mengajak masyarakat—khususnya generasi muda—untuk lebih produktif dan menjauhi barang terlarang. Semangat kebhinekaan yang terpancar dari para penonton yang berkumpul di lapangan menjadi pesan kuat akan persatuan bangsa yang sehat.

​Kehadiran pertunjukan seni ini tidak hanya memanjakan mata penonton, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) yang berjejer rapi di sekitar lapangan.

​Wahyu, selaku Founder sekaligus pemimpin Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan rasa syukur mendalam atas respons positif masyarakat.

​"Alhamdulillah, kami melihat para pelaku UKM benar-benar merasakan manfaat dari titik lokasi kesenian kami tampil. Tadi kita lihat steleng (etalase) pedagang penuh, namun ketika acara selesai, dagangan mereka habis terjual. Ini adalah bukti nyata bahwa kesenian lokal mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan," ujar Wahyu dengan rasa syukur.

​Antusiasme penonton tidak terbendung hingga akhir acara. Mang Komis, salah satu warga yang hadir saat diwawancarai tim KMB, mengaku sangat terhibur dengan penampilan yang disuguhkan. Ia bahkan merasa durasi penampilan tersebut masih kurang panjang karena saking serunya pertunjukan.


​"Seru sekali, Mas. Saya sangat senang bisa melihat masyarakat berkumpul dalam satu rasa kebhinekaan seperti ini. Harapan saya, kesenian seperti ini bisa rutin diadakan kembali agar terus bisa dinikmati oleh warga," tutur Mang Komis.

​Pagelaran ini menjadi bukti bahwa pelestarian seni tradisional bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi instrumen efektif dalam mempererat silaturahmi sosial, menggerakkan ekonomi kreatif, sekaligus menjadi ajang edukatif dalam merayakan hidup sehat tanpa narkoba.

Satu Rasa Seni di Purwodadi Padangsidimpuan: Syukuran Khitanan, Kebhinekaan, dan Harapan Baru bagi Para Pelaku UMKM

Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan

KMB SUMUT Senimantul.blogspot.com

Padangsidimpuan 

Share:

Minggu, 21 Juni 2026

Penampilan Perdana di Huntap Taman Sari Tapsel: Kolaborasi Seni Endang Sewu dan Tri Laras Pukau Masyarakat serta Dongkrak Ekonomi

 

Penampilan Perdana di Huntap Taman Sari Tapsel: Kolaborasi Seni Endang Sewu dan Tri Laras Pukau Masyarakat serta Dongkrak Ekonomi

​BATANG TORU – Suasana Komplek Hunian Tetap (Huntap) Taman Sari, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendadak riuh dan semarak pada Minggu (21/6/2026). Ratusan warga memadati kawasan relokasi perumahan permanen bagi korban bencana banjir dan longsor tersebut untuk menyaksikan  pertunjukan budaya yang bersejarah: penampilan perdana kesenian Jaran Kepang di lingkungan Huntap Taman Sari Hapesong Baru.

​Pertunjukan hiburan tersebut menampilkan kolaborasi apik antara Sanggar Jaran Kepang Endang Sewu asal Tapanuli Selatan dengan Sanggar Tri Laras dari Kota Padangsidimpuan. Kehadiran dua sanggar kesenian ini menjadi magnet utama yang sukses menghidupkan suasana kawasan Huntap untuk pertama kalinya melalui pertunjukan seni tradisional.

​Acara yang digelar bertepatan dengan undangan syukuran khitanan salah satu masyarakat ini menjadi semakin istimewa karena jatuh bertepatan dengan momentum Peringatan Hari Krida Pertanian Indonesia dan Hari Musik Dunia 21 Juni 2026.

​Kehadiran partunjukan sanggar seni ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat setempat. Area di sekitar lokasi acara disemarakkan dengan jejeran stan Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) yang menjajakan berbagai produk unggulan.

​Kadir, salah seorang pelaku usaha yang berpartisipasi, mengungkapkan rasa syukur atas tingginya antusiasme masyarakat. Saat diwawancarai oleh perwakilan dari Pengurus Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan, Kadir menegaskan bahwa kehadiran kegiatan ini memberikan dampak positif bagi para pedagang.

​"Ini adalah penampilan perdana kesenian di sini, dan kami sangat bersyukur. Kegiatan kesenian ini menjadi salah satu harapan besar bagi kami pelaku usaha, karena terbukti efektif mendongkrak penjualan dan menghidupkan kembali denyut ekonomi masyarakat," ujar Kadir.

​Pimpinan Sanggar Kesenian Endang Sewu, Pak Paiman, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada tuan rumah yang telah memberikan ruang bagi timnya untuk tampil pertama kali di lokasi tersebut. Antusias hangat warga Huntap memberikan kesan mendalam bagi para penampil.

​Senada dengan hal tersebut, Pimpinan Sanggar Tri Laras Kota Padangsidimpuan, Wahyu Diyono, S.Pd. Gr., turut mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menilai, inisiatif masyarakat menghadirkan pertunjukan seni pada acara syukuran khitanan adalah langkah nyata dalam menjaga akar budaya.

​"Kegiatan di penampilan perdana dilokasi ini membuktikan bahwa masyarakat telah berperan aktif dan turut serta dalam pelestarian budaya. Kami sangat mengapresiasi semangat warga Huntap Taman Sari Hapesong Baru yang luar biasa dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, ditambah lagi masyarakat nya yang sangat ramah-ramah, buat hati jadi senang," tutup Wahyu.

​Pertunjukan perdana ini ditutup dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, meninggalkan kesan positif bagi warga Huntap Taman Sari Hapesong Baru serta diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan seni budaya lainnya di masa depan.

Organisasi Paguyuban

Sumatera Utara 

Krida Manunggal Budaya

KMB Sumut Padangsidimpuan

Hapesong Baru Batang Toru

Penampilan Perdana di Huntap Taman Sari Tapsel: Kolaborasi Seni Endang Sewu dan Tri Laras Pukau Masyarakat serta Dongkrak Ekonomi

Seni Mantul Tribun Padangsidimpuan

DPD

Share: