KMB

Senin, 29 Juni 2026

Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul

Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul (Mantap Betul)

TAPANULI SELATAN – Di sela-sela rimbunnya Dusun Bongal, Hutaraja Tinggi, suasana Minggu (29/062026) mendadak bergetar. Suara gamelan yang bersahutan memecah kesunyian, menjadi penanda detak jantung budaya kembali berdenyut melalui atraksi Sanggar Jaran Kepang Endang Sewu dari Batang Toru dan Sanggar Tri Laras dari Padangsidimpuan. Dalam puncak perhelatan khitanan yang digelar sebagai acara partai tambahan, kedua sanggar ini hadir bukan sekadar menari, melainkan merajut kenangan dan menyambung silaturahmi yang kian erat.

Sejak siang mencapai puncaknya, tampak salah satu seorang tokoh masyarakat setempat telah menanti kedatangan sanggar ini dengan penuh semangat di pinggir lapangan. Bagi beliau, kehadiran kesenian rakyat ini adalah penawar dahaga akan tradisi yang kian hari kian jarang menyapa. Kehadiran beliau seolah menjadi restu bagi para penari yang bersiap di balik kostum menarik yang sarat dengan aura magis dan kesejarahan.

Di tengah memuncaknya suasana pertunjukan, sebuah momen tak terduga terjadi. Tiba-tiba, seorang ibu-ibu di tengah kerumunan penonton tampak hilang kendali, terbawa oleh ritme musik yang kian rancak dan suasana magis yang menyelimuti area pertunjukan. Momen tersebut seolah menegaskan betapa kuatnya pengaruh kesenian ini dalam menyentuh sisi emosional dan spiritual warga yang menyaksikannya.

Di balik riuh semangat penonton, tersembunyi keringat yang tak sedikit. Pak Paiman dari Sanggar Endang Sewu dan Wahyu dari Sanggar Tri Laras, bersama seluruh punggawa seni, harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dengan segala kerumitan perlengkapan yang diboyong. Wajah-wajah mereka sempat menyiratkan letih yang amat sangat, namun saat selendang dikalungkan dan musik mulai ditabuh, keletihan itu pun luruh. Bagi mereka, profesi ini adalah panggilan jiwa.

Pertunjukan ini bak magnet yang menyatukan warga. Di sela-sela kerumunan, para pelaku Usaha Kreatif Masyarakat (UKM) tampak sumringah. Salah satu pedagang yang sedari tadi menjajakan dagangannya, dengan gestur antusias menghampiri tim dari Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan.

"Kapan lagi kesenian ini akan menghentak, Mas?" tanyanya penuh harap.

Mendengar pertanyaan itu, tim KMB pun tersenyum tipis, "Insyaallah minggu depan, Mas."

Jawaban itu bukan hanya tentang jadwal, melainkan harapan bagi pedagang tersebut akan kembali bergeraknya roda ekonomi kecil mereka. Kesenian rakyat ini telah terbukti menjadi penggerak ekonomi yang nyata—sebuah bukti bahwa ketika budaya dihidupkan, maka rezeki pun turut berdatangan.

Di penghujung pertunjukan, Pak Paiman dan Wahyu berkesempatan menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada sang tuan rumah. Mereka menghaturkan terima kasih yang tulus karena telah berbesar hati menyuguhkan kesenian yang merakyat ini. Langkah tuan rumah dalam menggelar puncak khitanan dengan menghadirkan Jaran Kepang adalah sebuah upaya mulia dalam menjaga api tradisi tetap menyala di tengah gempuran zaman.

Dusun Bongal, Hutaraja Tinggi hari ini telah menjadi saksi, bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan penyambung rasa, penghidup ekonomi, dan pemersatu warga. Selama gamelan masih ditabuh, selama itu pula budaya kita tak akan pernah mati.


Gema Gamelan di Tanah Bongal: Saat Sanggar Endang Sewu dan Tri Laras Menjalin Kolaborasi Mantul 

KMB Sumut Psp KridaManunggalBudayaPsp.blogspot.com

Senimantul.blogspot.com Tribun Padangsidimpuan

Share:

0 komentar:

Posting Komentar