KMB

Tampilkan postingan dengan label https://kridamanunggalbudayapsp.blogspot.com/2026/06/tepat-di-hari-peduli-sedunia.html. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label https://kridamanunggalbudayapsp.blogspot.com/2026/06/tepat-di-hari-peduli-sedunia.html. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2026

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

MEDAN – Kemegahan Panggung Keong dalam perhelatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 menjadi saksi bisu keberhasilan luar biasa dari Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumatera Utara (Sumut) Sanggar Seni Siswo Langgeng Budoyo sukses menghipnotis ribuan pasang mata melalui pertunjukan seni yang megah dan penuh estetika pada Minggu malam (18/7/2026).

Sejak Monitor diputar, Sanggar Siswo Langgeng Budoyo langsung menyuguhkan komposisi seni tingkat tinggi yang memadukan keanggunan gerak tari tradisional dengan alunan musik etnik yang enerjik dan dinamis. Tata cahaya yang megah di Panggung Keong berpadu dengan kostum penari yang detail dan artistik, menciptakan harmoni visual yang mengundang decak kagum. Ribuan penonton yang memadati lokasi tampak terpaku, memberikan apresiasi berupa tepuk tangan gemuruh yang tidak henti-hentinya mengiringi setiap pergantian adegan.

Pendiri sekaligus Ketua Sanggar Siswo Langgeng Budoyo, Agus Widodo, bersama partner setianya, Iwan serta seluruh rekan-rekan seniman, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas sambutan luar biasa dari masyarakat. Penampilan di PRSU ke-50 ini menjadi bukti nyata konsistensi sanggar dalam merawat marwah seni tradisi di tengah arus modernisasi.

"Kami sangat bangga bisa memberikan penampilan terbaik bagi masyarakat di momen spesial PRSU ke-50 ini. Bagi kami, setiap panggung adalah kesempatan untuk menyampaikan pesan bahwa seni budaya kita memiliki nilai luhur yang harus terus dijaga," ujar Agus Widodo.

Senada dengan Agus, Iwan menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dedikasi dan sinergi yang solid antar sesama seniman di dalam sanggar. "Kekompakan, disiplin, dan kecintaan kami pada budaya menjadi bahan bakar utama. Kami ingin memastikan setiap karya yang kami bawa memberikan dampak emosional bagi para penonton," jelas Iwan.

Rekam Jejak yang Mengesankan

Agus dan Iwan menjelaskan bahwa kualitas pertunjukan yang mereka suguhkan bukanlah hasil instan. Keikutsertaan mereka dalam acara-acara besar seperti PRSU merupakan rangkaian dari agenda padat sanggar yang terus bergerak aktif.

"Bukan kali ini saja sanggar memberikan penampilan yang baik. Sebelumnya, kami juga sukses membawakan Drama Kolosal pada Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau beberapa hari lalu. Dalam drama tersebut, kami menghadirkan narasi megah mengenai perjuangan dan kejayaan sejarah tembakau yang menjadi fondasi ekonomi Sumatera Utara di masa lampau. Keberhasilan menyampaikan pesan sejarah melalui seni tari itulah yang kami bawa kembali ke panggung PRSU malam ini," ungkap Agus dengan bangga.

Harapan bagi Pelestarian Budaya

Pencapaian gemilang Sanggar Siswo Langgeng Budoyo ini menjadi bukti konkret bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Melalui bimbingan Agus Widodo, Iwan, dan para pengurus lainnya, sanggar ini terus berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus melestarikan identitas budaya Sumatera Utara.

Keberhasilan penampilan di Panggung Keong PRSU ke-50 ini diharapkan mampu menjadi pemacu semangat bagi komunitas seni lainnya untuk terus berkarya, sekaligus memperkuat posisi Paguyuban Krida Manunggal Budaya sebagai pilar utama dalam menjaga eksistensi budaya di Sumatera Utara.


SISWO LANGGENG BUDOYO: Guncang PRSU ke-50 dengan Magis Budaya yang Memukau Ribuan Penonton

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

senimantul.blogspot.com

Share:

Sabtu, 11 Juli 2026

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Gerak Seni Perdana se-Tapanuli Raya

Padangsidimpuan, 11 Juli 2026 – Sebuah tonggak sejarah baru dalam khazanah seni pertunjukan di wilayah Tapanuli Raya resmi mencuat ke permukaan. Proses kreatif yang mendalam kini tengah dilakukan untuk melahirkan karya tari orisinal bertajuk "Tari Gunungan". Karya ini digadang-gadang tidak hanya menjadi suguhan estetis, tetapi juga simbol identitas baru yang sangat relevan dengan lanskap geografis serta sosiologis masyarakat di Padangsidimpuan dan sekitarnya.

Menyelami Filosofi di Balik Geografis Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, yang dikenal sebagai "Kota Salak", secara geografis memiliki keunikan yang memikat. Dikelilingi oleh barisan pegunungan yang megah, kota ini berada di lembah yang subur, menciptakan kontur alam yang dramatis dan menantang. Ikon utama daerah ini, yaitu buah salak, bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan representasi ketangguhan masyarakat yang mampu hidup dan berkembang di antara perbukitan yang terjal.

Tari Gunungan hadir sebagai interpretasi artistik dari fenomena alam tersebut. Gerakan-gerakan dalam tarian ini dirancang untuk mencerminkan dinamika pegunungan, di mana setiap liukan tubuh penari menyerupai siluet perbukitan. Formasi gerak yang memuncak secara visual mengadopsi bentuk kerucut buah salak—simbol kemakmuran dan karakter masyarakat setempat yang "berkulit duri namun manis di dalam".

Memadukan Makna Luhur Gunungan Wayang

Tak hanya terinspirasi dari bentuk fisik salak dan pegunungan, Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa karya ini juga meresap esensi filosofis dari Gunungan dalam tradisi Wayang Kulit. Dalam pewayangan, Gunungan atau Kayon adalah simbol kehidupan, alam semesta, dan pintu pembuka serta penutup cerita. Ia melambangkan keseimbangan antara bumi dan langit, serta perjalanan jiwa manusia.

Dengan mengadopsi makna tersebut, Tari Gunungan menjadi sebuah refleksi spiritual bahwa setiap kehidupan masyarakat di lereng pegunungan Padangsidimpuan senantiasa bersandar pada keseimbangan alam. Gerakan tari ini menjadi doa, sebuah simbol "pembuka jalan" bagi kemajuan budaya di Tapanuli Raya yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

Kolaborasi Kontemporer: Gondang Sembilan dan Gamelan

Wahyu Diyono, S.Pd., Gr., selaku pendiri Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, mengungkapkan bahwa proses riset untuk tarian ini telah memasuki tahap demi tahap konsep musik pengiring. Menurutnya, sebuah kolaborasi lintas budaya akan menjadi inti dari pertunjukan ini di suatu hari nanti.

"In sya Allah, Suatu hari nanti Tari Gunungan ini akan menjadi titik temu antara tradisi lokal dan kreativitas kontemporer. Kita akan memadukan kemegahan irama Gondang Sembilan, yang merupakan identitas budaya Mandailing yang sangat kuat, dengan motif gerak Gunungan yang filosofis," ujar Wahyu saat ditemui di sela-sela latihan.

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa nuansa kontemporer akan semakin kental dengan integrasi instrumen Gamelan Saron Berjenis Slendro. Irama yang dipilih adalah pola notasi 165, yang sengaja diselaraskan dengan ritme Jathilan Khas Kesenian Jawa. Perpaduan irama yang energetik dari Gamelan Saron Slendro dengan ketukan perkusi Gondang Sembilan diyakini akan menciptakan atmosfer pertunjukan yang magis, dinamis, dan mampu menghipnotis penonton di suatu hari nanti.

Visi Menuju Panggung Budaya Nasional

Tari Gunungan bukan sekadar proyek seni sesaat. Wahyu bersama Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan memandang karya ini nantinya sebagai langkah strategis untuk memperkaya literasi budaya di Tapanuli Raya. Melalui kolaborasi demikian, diharapkan terjadi dialog antarbudaya yang harmonis, membuktikan bahwa perbedaan etnis dan tradisi dapat melebur menjadi satu kesatuan karya yang inklusif.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Padangsidimpuan memiliki kapasitas untuk melahirkan inovasi seni yang berkelas. Dengan memadukan unsur alam pegunungan kita, kekayaan buah salak kita, makna filosofis Gunungan wayang, dan kearifan musik tradisi, kami optimistis tarian ini akan menjadi primadona baru dalam festival budaya, baik di level regional maupun nasional," tambah Wahyu.

Saat ini, para seniman muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Tri Laras Padangsidimpuan tengah mengintensifkan latihan guna memastikan keselarasan antara gerak tubuh penari dan tempo musik. Masyarakat Padangsidimpuan pun menantikan peluncuran perdana karya ini, yang diharapkan dapat menjadi kebanggaan baru bagi warga di lereng pegunungan Tapanuli Raya.

Dengan hadirnya Tari Gunungan, Padangsidimpuan kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga terus bertumbuh melalui napas seni yang progresif.


Tari Gunungan: Proses Nyata Adaptasi Kerucut Salak dalam Sebuah Tarian Perdana se-Tapanuli Raya

kridamanunggalbudayapsp.blogspot.com

tribunpadangsdimpuan.blogspot.com

kelurahansitamiangbaru.blogspot.com

kompasbudaya.blogspot.com

Share:

Minggu, 07 Juni 2026

Tepat di Hari Peduli Sedunia, Pertunjukan Budaya Ini Mengajarkan Kita Arti Kebersamaan yang Sesungguhnya

 

Tepat di Hari Peduli Sedunia, Pertunjukan Budaya Ini Mengajarkan Kita Arti Kebersamaan yang Sesungguhnya

​PADANGSIDIMPUAN – Suasana di Kelurahan Batunadua Jae, Kota Padangsidimpuan, mendadak meriah dan penuh warna pada Minggu (7/6/2026). Ratusan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga para lansia, tumpah ruah memadati lokasi perhelatan untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional Jaran Kepang yang memukau.

​Acara yang digelar bertepatan dengan momen istimewa hari ulang tahun putra dari Bapak Hutabarat ini, mampu menjadi magnet bagi warga sekitar. Lebih dari sekadar perayaan syukur, kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam harmoni yang indah.

​Kebhinekaan dalam Irama dan Gerak

​Pertunjukan Jaran Kepang yang fenomenal ini semakin semarak dengan kehadiran sejumlah tokoh legendaris serta maestro kesenian Jawa. Kehadiran mereka memberikan suntikan energi dan kualitas artistik yang tinggi, membuat setiap dentuman kendang dan lengkingan musik pengiring gamelan mampu menghipnotis para penonton yang hadir.

​Kemeriahan ini juga diperkuat dengan panampilan dari berbagai sanggar kesenian ternama, di antaranya:

  • ​Pengurus DPD Krida Manunggal Budaya (KMB) Padangsidimpuan
  • ​Sanggar Langen Budi Utomo dari Bakaran Batu
  • ​Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan
  • ​Serta perwakilan dari berbagai sanggar seni lainnya dari berbagai wilayah Padangsidimpuan 

​Kehadiran para pegiat seni ini menegaskan bahwa nilai-nilai kebhinekaan tetap terjaga dengan kokoh melalui kesenian. Meski dikemas secara sederhana, penampilan ini mampu melahirkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat Batunadua Jae Padangsidimpuan.

​Refleksi Global di Balik Pertunjukan Budaya

​Pertunjukan ini berlangsung di tanggal yang sarat makna, yakni 7 Juni 2026, yang bertepatan dengan dua peringatan penting berskala global: Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) dan Hari Peduli Sedunia (World Caring Day).


​Momen kebersamaan ini pun seolah menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai kedua peringatan tersebut. Sesuai dengan tujuan Hari Keamanan Pangan Sedunia yang dicanangkan PBB, acara ini menjadi ajang bagi warga untuk menjajakan UKM (Usaha Kreatif Masyarakat) yang aman dan sehat, sekaligus mempererat hubungan sosial sesuai dengan semangat Hari Peduli Sedunia yang menyoroti kekuatan empati dan kasih sayang.

​Melalui aksi nyata dan empati yang terjalin dalam acara tersebut, pesan tentang pentingnya koneksi antar sesama untuk membawa perubahan positif terasa semakin relevan. Perayaan ini membuktikan bahwa dengan kepedulian dan pelestarian budaya, sebuah komunitas dapat terus tumbuh harmonis di tengah keberagaman.


​Kegiatan pun diakhiri dengan suasana kekeluargaan yang kental, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh hadirin yang larut dalam kegembiraan kebudayaan dan persaudaraan.


KMB

DPD Krida Manunggal Budaya Padangsidimpuan



Share: